“PMS”= Peggy Melati Sukma @ BaNjiR nAsiONaL
February 7, 2007 at 7:07 am | In Wimar | 3 Comments“Mbak, saya ingin sekali hadir, tapi saya khawatir nanti saya pulangnya bagaimana, jadi mungkin saya hadir untuk edisi berikutnya mbak…” begitu isi sms seorang penggemar setia acara café Wimar Witoelar Talk About Nothing yang setiap selasa di gelar di Pisa Café Mahakam.
Kali ini, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana Tips Smart menghadapi banjir yang melanda kota Jakarta tahun 2007 ini. Dijadwalkan yang bertindak sebagai narasumber adalah Peggy Melati Sukma, seorang aktivis yang terjun langsung kelapangan di saat banjir sedang berlangsung. Namun, 30 menit sebelum acara berlangsung, Peggy Melati Sukma menginformasikan bahwa ia masih terjebak macet total sehingga tidak dapat memenuhi undangan hadir sebagai narasumber di café pisa, Ia tetap bersedia memberikan beberapa informasi melalui line telepon selularnya.
Selain Peggy Melati Sukma, di café sudah hadir seorang producer TV swasta, salah satu anggota komunitas “Bike To Work [B2W]” yaitu bapak Anto, bernama lengkap Eko Fajar Riyanto.
Anto menceritakan sedikit pengalaman bersepeda menuju kantor yang berjarak kurang lebih 15 KM, tidak jarang dikala akhir pekan, ia dan komunitasnya bersepeda dengan menggunakan sepeda mountain menuju tempat yang lebih jauh, Bogor misalnya.
Keterlibatan Anto dalam menyikapi banjir adalah Ia dan komunitas B2W selain aktif bersepeda, ia juga mempunyai komunitas Cherokee adventure. Komunitas tersebut memiliki 15 perahu yang biasa digunakan rafting. Jum’at lalu dikala banjir hari pertama ia dan teman-teman berangkat dengan 3 perahunya ke kawasan Kelapa Gading, Hari Sabtu selain di kelapa gading dengan 3 perahu, Ia dan teman-teman berangkat menuju kawasan Ciledug dengan membawa 2 perahu, dan hari minggu ke kawasan Pondok Gede dan pekayon dengan 2 perahu.
Anto menyimpulkan, bencana banjir tahun ini buat ia terkesan bukan merupakan sutu bencana, namun ia melihat ada suatu “euphoria label”atau hajatan besar pakai label, dimana disejumlah kawasan, banyak terdapat “Posko [nama partai] banjir”. Banyak partai yang memberi label untuk bencana banjir ini, namun kenyataan di lapangan masih banyak kawasan yang belum diberi bantuan dilapangan menolong korban untuk dievakuasi.
Pendapat Peggy MS pada banjir kali ini, buat ia bukan yang pertama, ini kejadian berulang, yang kali ini cukup buruk terjadi, artinya ada yang salah kalau hidup kok semakin hari semakin buruk bukan semakin baik. PMS yang tergabung di “yayasan prakarsa” melihat adanya Swadaya masyarakat, menangani di sejumlah titik yang rawan. Yang harus cepat ditanggapi adalah bagaimana melakukan evakuasi korban, distribusi logistik dan pakaian kering.
WW menanyakan pada PMS, ada yang melaporkan bahwa seorang pejabat DKI memberikan pernyataan di suatu kawasan, masalah logistiknya baik, namun banyak warga yang tidak mau dievakuasi, bagaimana PMS menanggapi ini?
Bagi PMS, ia juga menemukan hal yang sama di beberapa tempat tidak mau dievakuasi kaitannya dengan harta benda mereka, sikap ia menghadapi warga yang kesusahan adalah dengan personal Approach, terjun langsung lewat air meminta mereka untuk lebih mengutamakan keselamatan, untuk dapat dievakuasi dan mendapatkan layanan kesehatan masyarakat, karena kalaupun mereka tetap ditempat, air semakin naik, harta benda bisa juga hanyut terbawa air, melelahkan memang, tapi ia tetap lakukan. Saat ini kita memerlukan relawan-relawan dan tim rescue untuk melakukan personal approach pada masyarakat.
Disela pernyataan PMS, WW menegaskan bahwa saat ini, Ia tidak ingin membuat “panas” suasana. Ada saat nya sudah “dingin” kita agar “jangan lupa” dengan bencana ini.
PMS kembali memberikan pernyataan tegas, banjir kali ini lebih besar dari 5 tahun yang lalu, dimana sejumlah titik yang dulunya tidak terkena, kali ini kena, ini yang menjadikan indikasi buat PMS bahwa kok semakin hari keadaan semakin buruk. Semestinya kita bisa melakukan perbaikan dalam jangka waktu 5 tahun, sehingga tidak “worse than before”.
Bocoran info kecil rumah tangga PMS, kepentingan masyarakat sudah menjadi salah satu syarat pra nikah dia yang berlangsung belum lama ini. Menurutnya Solidaritas Sosial jangan hanya timbul di saat musibah besar, sedangkan warga sendiri tidak tahu bagaimana menyikapinya. Alangkah baiknya dikala tidak ada bencana, warga diberi penyuluhan tentang bagaimana menghadapi bencana. Misalnya, membuat program rutin untuk mengedukasi masyarakat, terutama kepada anak-anak. PMS sudah bekerjasama dengan batalyon kesehatan kostrad, dengan artha graha peduli, dengan sampoerna, dengan telkomsel, untuk terus memberikan layanan kesehatan, dapur umum ke titik pengungsian terbesar, karena itu akan dibutuhkan.
Setelah break WW kembali ke pak Anto, menanyakan dimana bisa beli perahu karet dan berapa harganya?
Anto menjawab, di Indonesia yang ia temui pabrik pembuat perahu karet terdapat di Bogor, dengan nama Boogie, harga bekisar antara 15-25 jutaan. Lain kalau yang untuk militer, perahu lkaret tersebut didatangkan khusus dari Amerika.
WW kembali nyeletuk, bisa gak beli di tempat biasa, ITC misalnya?
Anto menjelaskan, bahwa komunitasnya 5 tahun yang lalu membeli perahu karet melalui agen di korea, sebanyak 5 unit. Waktu itu seharga 3500$/buah.
WW kembali memberikan pertanyaan, apakah menurut pak Anto banjir besar sudah selesai?
Menurut Anto, Banjir besar sudah berkurang, namun kita yang berlokasi di Jakarta harus tetap waspada, Karena di Bogor air masih mencapai 150 cm, yang biasa normalnya adalah 80 cm.
WW membacakan SMS dari seorang professional muda yang bertempat tinggal di Kranggan, Apa yang harus dilakukan masyarakat pada saat bencana datang?
Tip dari Anto pada saat bencana datang, kita harus tetap tenang, pada saat air masuk, kita jangan panik, karena kalau panik, kita akan menjadi tidak tahu harus berbuat apa, sehingga membuat keadaan tidak terkendali dan pada akhirnya menyalahkan orang lain. Yang baik dilakukan adalah tenang, nyalakan lampu minyak, kunci pintu.
Ada satu sms dari pendengar yang mungkin ditujukan kepada WW, yaitu: Anda sudah melakukan apa saja selama banjir?
WW menjelaskan, Ia hanya bisa nonton TV, Bikin Talkshow seperti ini, meneruskan informasi, dan menyebarkan ilmu yang ia miliki.
Lain pengalaman Hayat yang pada saat banjir ia stuck terjebak di kantornya yang berlokasi di fatmawati, bertempat tinggal di Tebet Barat. Keadaan kantornya tidak jauh berbeda dengan keadaan rumah, kantor baginya just like his second home. Pada saat itu listrik mati, ia tetap mendapatkan informasi dari seorang kawannya yang disampaikan melalui sms, buat ia, informasi ini sangat berguna. Dan menyikapi bencana banjir ini, ia menyarankan agar warga tetap kompak dan peduli sesama, usahakan HP agar tetap aktif.
WW menanyakan kepada Hayat, bagaimana jam kerja di perusahaan tempat ia bekerja?
Hayat menjelaskan, jam kerja ditempat ia bekerja sangat fleksible.
Lain lagi pengalaman banjir yang dialami oleh Endah, seorang karyawan dari perusahaan penyedia jasa saluran telepon. Pekerjaan menjadi menumpuk karena banjir yang lalu, ia tidak dapat masuk kantor.
WW kembali pada pak Anto, menanyakan alat apa yang harus disiapkan dirumah?
Menurut Anto, basic gak ada yang harus dipersiapkan. Namun, ada baiknya dalam satu RT patungan untuk beli perahu karet, gak perlu yang buatan korea, yang local saja cukup untuk keadaan darurat. Ia dan komunitas adventure siap melatih. Bisa juga melalui komunitas “bike to work” yang berlokasi di Jl. Tebet Barat Dalam I no. 37. atau melalui hp ia: 0816 168 9000, menurut WW, setiap ada kemauan pasti ada yang menyambut asalkan warga “teriak” untuk bantuan dan saat ini, bukan waktu yang baik untuk menyalahkan. Semua itu bisa dikurangi dengan kebijaksanaan yang benar dengan memikirkan 2 faktor: 1. resapan air di kawasan harus bagus, 2. aliran air harus lancar.
Buat Ibu Sjully Darsono, seorang wirausahawati, pengunjung café, banjir buat ia menghambat anaknya untuk sekolah, karena guru banyak yang tidak bisa datang mengajar ke sekolah, supirnya juga terkena banjir. Namun buat ia pribadi, banjir kali berdampak buruk bagi usaha yang ia geluti.
WW kembali menyapa pendengar yang sudah tersambung di line telepon, yaitu: Ibu Ratih seorang dokter yang bertempat tinggal dikawasan sahardjo. Pada saat banjir ini, anaknya yang berumur 3 tahun terkena penyakit demam, karena hujan. Di depan rumah ia, banjir sampai setinggi lutut orang dewasa, namun tidak sampai masuk kerumah. Bagi Ratih, banjir kali ini sangat mengancam, setelah ini pasti akan timbul penyakit, seperti Bronchitis, penyakit saluran pernapasan, infeksi saluran pencernaan.
WW bertanya kepada ratih, pada saat seperti ini, obat-obatan apa saja yang harus disediakan di rumah?
Antibiotik, Anti diare, obat panas, parasetamol
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


